Duhai Lisan Yang Tersirah

Duhai Lisan Yang Tersirah

Duhai lisan yang tersirah..
Berhati-hatilah..
Jika buruk yang tercurah..
Karena ukhuwah yang merekah bisa terpecah..
Persaudaraan bisa terpunahkan..
Kepercayaan bisa terlunturkan
Rasa sayang bisa hilang..
Rasa cinta bisa jadi sirna..
Rasa rindu bisa jadi layu..
Keakraban bisa jadi kebencian..
Ukhuwah yang utuh jadi rapuh..

Duhai lisan yang tersirah……
Terjagalah.. Jika baik yang tercurah..
Karenanya, ukhuwah bisa semakin merekah..
Persaudaraan semakin erat meski berganti zaman..
Kepercayaan semakin tertancapkan dalam iman..
Rasa sayang semakin terbayang-bayang
Rasa cinta semakin luar biasa..
Rasa rindu semakin terhenyak ingin bertemu..
Keakraban semakin terindukan..
Ukhuwah yang utuh semakin menyatu..

Duhai lisan..
Berhati-hatilah..
Dan jagalah… jagalah jika baik yang tercurah..

Iklan

Dan Tentang Dakwah

Dan Tentang Dakwah

Kemarin 23 Februari 2014 baru saja aku merasakan getaran hebat luar biasa, aku merasakan ini hari hebat, dimana aku menemukan sesuatu hal baru yang ku temui, dan begitu bermanfaat, ya tentang dakwah, kaka itu cepat sekali membantuku dalam mengartikan makna dakwah, dakwah bukan hanya soal ceramah, dakwah bukan hanya soal tabligh akbar, dakwah bukan hanya soal duduk dimasjid bersama-bersama dengan seorang mubaligh / ustadz dan bla..bla..bla..

‘Ka, dakwah itu setauku ceramah’ dalam hati kecilku bertanya setelah mengunduh video yang dikirimkannya, aku melihatnya, dan masih linglung , apa makna dari video ini? Disini tertulis banyak sekali tentang dakwah, salah satu yang kuingat yaitu “Dakwah menempaku menjadi sosok yang lebih berarti untuk hidup yang hanya sekali, Dakwah mengajarkanku tentang cinta sejati, Dakwah mengajarkanku untuk mengenggam dunia ditanganku, bukan dihatiku” dan banyak sekali, hanya saja aku belum bisa menafsirkan secara benar makna dakwah ini. Ya karna itu, karena kukira selama ini dakwah adalah ceramah.

Dakwah adalah cinta, begitu katanya, selintas fikiranku terbesit pada cinta manusia *Astaghfirulloh, istighfar ku ucap dalam-dalam, pesannya persepsiku harus diluruskan, definisi cinta disini bukan cinta yang semu, cinta terhadap manusia, *Walah semakin bingung ku dibuatnya.. sedikit mulai faham, Dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu, sampai pikiranmu, sampai perhatianmu, berjalan, duduk dan tidurmu, bahkan ditengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah, tentang ummat yang kau cintai, lagi-lagi memang seperti itu, Dakwah menyedot saripati energimu, sampai tulang belulangmu, sampai daging terakhir yang menempel ditumbuh ditubuh rentamu, tubuh yang luluh lantak diseret-seret.. tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari ..ketika kita menyeru untuk kebaikan, meluruskan niat untuk menebarkan kebaikan pada setiap umat,..cinta itu sebuah cinta yang lembut, bagai setangkai bunga anggrek yang harum dan menyegarkan.

Hari ini, aku akan terus bertanya tentang dakwah ini, sepertinya memang sudah saatnya aku berbagi kebaikan tidak hanya dengan orang dekat, wong yang mengenalkan aku tentang dakwah ini adalah seorang akhwat yang sebelumnya tidak ku kenal, sama sekali belum bertatap muka, tetapi ia sangat peduli padaku yang masih butuh bimbingan ini, ketika aku bertanya dengan tersedu-sedu “kenapa kaka begitu peduli padaku” ia menjawab dengan manisnya “karena kamu saudariku.. :*”, dan dakwah mengajariku untuk terus belajar kebaikan pada siapapun.

Nah, kaka ini pula yang mengajarkanku tentang indahnya ukhuwah, menurutku dia adalah orang yang pintar memulai ukhuwah, *kenapa ? karena dialah yang memulai ukhuwah denganku, dengan mengadd facebookku, dan dia juga pintar membuat ukhuwah ini merekah, *kenapa ?, karena dialah yang begitu peduli mengenalkanku pada kebaikan, cinta, hati, sampai kepada dakwah ini, dia yang sangat sabar mengetik satu demi satu huruf hingga menjadi kata, dan bersatu padu menjadi kalimat yang indah, yang kemudia ia tebarkan padaku, sungguh aku merasa ukhuwah ini indah, ka.. barakallah.. 

Mengapa aku sejelek ini ??

Mengapa aku sejelek ini ??

“Hei lihat gadis itu menangis”, teriaknya pada salah satu kawanku sesambil menunjuk ke arahku, sedang aku masih dalam keadaan terisak dan sesegukan, kata-katanya tepat menusuk ulu hatiku, apa iya aku sejelek ini ?

Tetiba salah satu sahabatku datang meminjamkan pundaknya, “mengapa cantik? lagi-lagi engkau menangis, sudah 19 tahun ini engkau masih saja bersikap seperti anak kecil, yang ketika ada satu perkataan saja yang membuat hatimu terkucil, air matamu tetiba menetes kemudian mengalir deras…

“Sudahlah, abaikan saja perkataan itu, jika sekarang kata-kata itu mengendap dihatimu, tersimpan diotakmu, coba sekarang engkau simpan ia dibawah telapak kakimu, kau endap dibawahnya, jangan berlama-lama menyimpannya dalam hati, ia akan berkarat”, celotehnya padaku terus saja tiada henti, mungkin dia begitu bosan melihatku yang sering kali sesegukan hanya karena hal kecil.

“ah tunggu dulu sebenarnya siapa yang membuatmu seperti ini??, memangnya dia bicara apa?, jelaskanlah padaku, aku akan mengerti tanpa harus kau pinta” tanyanya padaku, dengan bersandar dibahunya aku pun bercerita, aku sering kali iri terhadap siapapun, apa aku ditakdirkan sejelek ini mae? Sehingga tak ada seorangpun yang berkata aku ini cantik?, “Aku? Sesambil menunjuk dirinya” maepun menyanggah,.

Aku rasa hanya kamu yang sering memanggilku dengan sebutan cantik, tapi mereka, sering kali aku jadi bahan cemoohannya, terkadang ketika jam pelajaran aku sering kali berlari kekamar mandi hanya ingin menangis, teman-temanku dikelas sering kali mengejekku dengan kata ‘jelek’, dan jika memang kuperhatikan, orang-orang disana hidungnya mancung keluar, sedang aku mancung kedalam, bibir mereka tipis menggoda, sedang aku sangat tebal bak gorilla, gigi mereka putih bersih dan rata, sedang aku besar-besar dan maju, aku malu, aku pun semakin terisak dan sesegukan.

Belum lagi kulit mereka putih merona, sedang aku coklat kehitaman, buluk, aku ini tak ada bagusnya bukan? Rambut mereka juga lurus dan bagus, sedang aku ikal mengembang seperti tak terawat, alis mereka tebal menyatu, sedang aku tipis berwarna abu-abu bak nenek-nenek, aku benci, mengapa aku dilahirkan seperti ini?

Pantas saja tidak ada satupun lelaki yang mau mendekat padaku, bahkan mengajakku menjadi pacarnya, ah itu hanya mimpi bukan? Aku harus bagaimana mae? Berkali-kali aku mencoba beryukur, tetapi sering kali juga aku tersungkur, mangkir dan kufur, aku iri, dengki, dan bla..bla..blaa…

Mae menatapku dalam-dalam, “lihat mataku, engkau sungguh cantik, prilakumu baik, engkau tidak pernah sekalipun menyakitiku seperti mereka, bagiku engkau tetap cantik, engkau teman yang sering kali sabar dalam menghadapi sifat pelupaku, sifat leletku yang membuat teman lain enggan untuk bermain denganku, engkau wanita baik, hei Ana, tatap mataku, sejelek apapun manusia, pasti mempunyai kelebihan”

Aku menepis pundaknya dan berkata, “tetapi tidak untukku” , jika Allah maha adil, mengapa dia tidak memberikan aku wajah secantik mereka?? Tetiba mae ikut menangis, “Ana, aku sedih melihat kau seperti ini, bukankah kemarin engkau bisa terus kuat, mengapa sekarang engkau terlalu rapuh ?”, aku menghela nafas dan memberontak, aku lelah.. lelah dengan semua ini mae, berkali-kali aku tetap berdiri tegak padahal hati ini bergitu terhimpit, sesak dan begitu sakit, kali ini aku ingin sekali teriak sekencang-kencangnya, melumerkan keluh dan asa yang dahulu sering aku pendam dan aku tahan agar tak lumer dan tercecer, tapi kali ini tidak, aku lelah, kau mengerti kan mae? Bukankah tadi kau yang bilang engkau akan mengerti tanpa harus ku pinta?..

Mae terus sesegukan melihatku seperti ini, suasanapun tetiba hening, dengan suara ciri khasnya yang serak mae kembali berbicara.. “Apa aku cantik” tanyanya padaku, “engkau sungguh cantik, alismu tebal, hidungmu mancung, dan kulitmu putih, matamu juga sipit dan engkau memiliki pacar” sahutku dengan nada iri.

Dengan matanya yang berkaca-kaca mae memegang pundakku dengan kedua tangannya “Ana, lihatlah wajahku, aku putih ? aku mancung ? dan aku memiliki pacar ? apa ini yang disebut cantik ??” jawabku “itu sempurna” “sempurna? Apa engkau tahu, selama 3 tahun kita berteman, aku selalu menyembunyikan satu hal padamu ana?” nadanya melemas, aku terbelalak, “apa?”

Mae bercerita “Penyakit kronis itu mulai menggerogoti tubuhku sejak dua tahun lalu, aku divonis oleh dokter, aku dihinggapi penyakit mengerikan itu, yang tidak sedikitpun terbesit dalam benakku, kanker itu, membuat hidupku tak lagi seindah dulu, tak lagi berwarna seperti dulu, tak lagi bercahaya kala itu, kanker ini sedikit demi sedikit menggerogoti otakku, ya aku terserang penyakit kanker otak stadium 1, itu hal yang paling mengerikan yang terjadi dalam kehidupanku..

Aku tak bisa lagi makan dengan enak, pantang ini, pantang itu, aku tak pernah bisa tidur nyenyak, nyeri dikepalaku terus saja berpacu, detak jantungku lebih keras berdebar, aku tak bisa merasakan indahnya dunia, aku juga sempat putus asa, aku mau mati saja, rasanya itu lebih baik, dari pada aku harus hidup menderita.

2 tahun ini aku harus hidup merana, tetapi semenjak masuk SMA, aku mengenal dirimu, dirimu kuat menopang hidup, melihatmu membuat aku menjadi semangat dalam menjalani ini semua, engkau begitu kuat, engkau pintar, aku iri melihat ketegaranmu, terlebih ketika ayahmu tenggelam saat kapal dipelabuhan merak itu kecelakaan, engkau sungguh kuat, engkau sama sekali tak menyalahkan Tuhan, mengenalmu, aku menemukan secercah cahaya hidup untuk terus berlanjut..

Aku iri kepadamu, engkau pernah meraih piala bergengsi diajang cerdas cermat antar sekolah itu, engkau juga pandai merangkai kata dan puisi, engkau mengajarkan aku banyak tentang agama dan pelajaran lain, terlebih engkau sering kali mengajariku mengaji, mengajariku untuk menyebut huruf hijaiyah itu dengan fasih dan masih banyak lagi.

Aku iri, aku hanyalah wanita cantik yang berpenyakit, jika dikasih pilihan, aku lebih baik jadi wanita biasa saja tetapi kuat dan banyak kelebihan seperti dirimu, aku cewe penyakitan, penyakitan ana.. kau harus tau itu, setidaknya ini lebih buruk dari yang kau alami bukan? Tangisnya meledak, alisku berdenyit tanda tak enak.

Aku dan mae saling berpandangan, “maafkan aku mae, aku telah membuat tangisanmu meledak, aku kini tersadar betapa Allah maha adil, Ia selalu menitipkan kelebihan disetiap kekurangan begitupun sebaliknya, mae terimakasih karena kau begitu sabar menghadapiku yang sering kali kau menemukanku dalam keadaan menangis, kita sama-sama kuat yah? Sambil ku peluk mae yang masih saja sesegukan.

“Ana aku juga minta maaf kepadamu karena selama ini menyembunyikan tentang riwayat penyakitku selama ini”, pungkasnya, pesanku padamu jangan selalu ingin dipuji cantik, karena kecantikan wajah hanyalah sementara, kita akan menua, cantiklah dari hati, cahaya kekuatan dari hati itu akan terpancar melebihi cahaya kecantikan wajah, Semakin ingin dipuji, dihargai, dikagumi semakin resah hati dan semakin mudah sakit hati. pujian, cacian, kucing mengeong, ember Jatuh, sama saja hanya sekedar getaran suara. Yang membuat kita sakit hati ketika dihina, bukan karena penghinaannya melainkan karena kerinduan kita untuk Dipuji/ Dihargai. Ujian pujian jauh lebih sulit dari pada ujian cacian. cacian yang membuat sadar diri jauh lebih baik dari pada pujian yang membuat lupa diri” nasihat mae pun cepat merasuk kedalam hatiku , kini aku kembali semangat, tak perlu risau jika dinilai orang lain, sejatinya Allah lah sebaik-baik penilai, maka yang bahagia, yang hanya sibuk terhadap penilaian Allah saja, tekadku dalam hati untuk seterusnya bersyukur atas apa yang telah Allah beri, atas apa yang telah aku miliki, dan atas semua yang telah ditakdirkan oleh Allah menjadi bagian dari hidupku.

Aku menangis haru, kejadian ini mengingatkanku kembali akan keadilan Tuhan yang begitu sempurna, ketika aku merasa memiliki banyak kekurangan, Ia selalu saja mengingatkanku begitu banyak kelebihan pada diriku melalui mae, yah kini aku sadar, Allah tetapkan hatiku untuk selalu berfikir positif dalam menghadapi apapun, dan jadikan aku wanita yang selalu saja memiliki alasan untuk berbaik sangka, mungkin mereka mentertawaiku, mencemoohku karena mereka rindu tertawa bersamaku.

“Nah gitu kan cantik, ayok senyum, ledek mae terhadapku, “hmm nih aku senyum yah , sahutku dengan penuh kegembiraan, aku memeluknya dan berkata “Barakallahu mae, semoga Allah angkat penyakitmu dan menaikkan derajatmu, engkau pasti kuat, kita sama-sama tegar yah, apapun yang terjadi kita tetap bersahabat”, mae menjawab “Barakallahu juga sahabatku, aku mencintaimu karena Allah”…

Selesai…

Apa Yang Kau Cari ???

Apa Yang Kau Cari ???

Sumber : Copas Grup ODOJ 811

Apa yang kau cari ??

– Sudah digunung, pantai kau rindukan…
– Tiba di pantai, gunung yang kau inginkan…
– Saat kemarau, kau tanya kapan hujan…
– Diberi hujan, kemarau kau tanyakan…
– Sudah tenang dirumah, Ingin pergi..
– Begitu pergi, kau ingin kembali kerumah..
– sudah dapat ketenangan, keramaian kau cari..
– Keramaian kau temukan, ketenangan kau rindui…

Apa yang sebenarnya yang kau cari ???

– Belum berkeluarga, mencari istri/suami..
– Sudah berkeluarga, ngeluh anak belum diberi..
– Dapat anak, ngeluh lagi kurang rejeki…

Ternyata sesuatu tampak indah karena belum kita miliki, lalu kapankah kebahagiaa akan kita dapatkan ???

– Kalau yang belum ada selalu kita fikirkan..
– Sedang yang sudah diberi Allah kita abaikan..
– Bukankah telah banyak yang kau dapatkan ??

Jadilah pribadi yang selalu bersyukur, karena kesyukuran akan membuatmu subur…
mungkinkah selembar daun bisa menutup bumi, sedang kau tak bisa menutup telapak tangan sendiri.. tetapi saat selembar daun kecil menempel dimata, maka bumi yang luas seperti tertutup semua..

Begitu juga bila hatimu ditutupi keburukan, seolah-olah yang tak cocok denganmu selalu kejelekan, seluruh bumi seolah tak ada kebaikan, padahal letaknya cuma hatimu yang ketutupan 😉

– Jangan tutup matamu dengan daun kecil..
– Jangan tutup hatimu dengan ketoran secuil..
– Syukuri nikmat Allah, meski kelihatan mungil..
– Terus istiqomah dengan sunah maka kelak kau berhasil..

– Bila buruk hatimu, buruk pula akhlakmu..
– Bila tertutup hatimu, tertutuplah segala sesuatu..
– Syukurilah semua yang ada padamu, dari situ engkau memuliakan dirimu..
– Belajarlah berterimakasih pada Allah Ta’ala sebagai modal untuk memuliakan-Nya karena hidup adalah “Waktu yang dipinjamkan . dan harta adalah Anugerah yang dipercayakan”,

Semoga Bermanfaat..

Aku Menyayangimu nak…

Aku Menyayangimu nak...

Adik kecilku yang manis, yang wajahnya berlseung pipi jika mengembangkan bibirnya, membentuk pelangi terbalik, yang mancung hidungnya, yang ikal rambutnya, yang tebal dan hamper menyatu alis matanya, yang hitam kelopak matanya, dan yang matanya berkata benar saat mulutmu berkata bohong.

Adik Kecilku yang ku sayang, engkau sangat pintar mengaji, bahkan kau terlihat lebih unggul disbanding teman-temanmu yang lain, aku sangat bangga padamu, diumurmu yang masih kecil, engkau sudah menapaki sedikit demi sedikit bacaan AL Qur’an dengan baik, yang banyak orang dewasa pun tak mampu membacanya, aku yakin engkau akan tumbuh baik nak, selama engkau masih berpegang teguh akan melakukan kebaikan.

Adik kecilku yang manis, umurmu kira-kira masih 10 tahun ya sayang, tapi mengapa kau tega membohongiku nak.. kau begitu tega membuat beban ini tiada hentinya, seering kali aku harus memutar otak agar terus bisa membahagiakanmu, membelikanmu buku-buku LKS, membelikanmu selimut yang kau idamkan, dan membelikan semua kebutuhanmu sampai pada kaos kaki yang sampai saat ini memang belum kubelikan.

Adik kecilku yang lugu, engkau sangat lugu dan begitu manja, entah apa yang ada dalam fikiranmu sampai engkau berani melakukan itu, dan sungguh sangat terngiang ditelinga ini kala banyak yang mengadu tentang kenakalan dirimu, aku begitu terpukul ketika mendengar banyak tentang kenakalan dirimu, dan aku tidak marah, sesekali aku hanya mengelus dada dan mengomelimu dengan nada yang agak tinggi, itu bukan marah, tapi itu caraku agar engkau lebih mengerti, aku tau itu salah, tapi aku telah kehabisan akal, berbicara dengan baik pun kau mengelak tak mendengarnya.

Adik kecilku yang pintar, aku sangat bangga padamu prestasimu dikelas patut diacungkan jempol, engkau sangat pintar menghafal dan menggambar, engkau juga pintar matematika, serta pintar bercerita, apalagi ketika engkau berhasil mendapatkan juara di semester akhir ini, aku begitu bangga padamu, dan kemudian aku membelikanmu hadiah selimut yang engkau idamkan sejak dulu bukan, itulah bukti sayangku kepadamu.

Tapi, akhir-akhir ini engkau membuatku kecewa nak, engkau melakukan sesuatu yang tak pernah terbesit sekalipun dalam otakku, engkau melakukan sesuatu yang salah, aku sedih dibuatnya dan sampai sekarang pun aku masih memutar otak untuk mengatasi keanehan ini, keanehan pada dirimu, apa engkau merasa tertekan nak? Apa engkau merasa kurang disayangi, atau engkau ingin mendapatkan banyak hal yang kau idamkan sehingga engkau melakukan hal itu.

Dan, ketika tadi pagi aku mencoba untuk menasihatimu dengan sayang, aku ingin sekali menitikkan air mata melihatmu yang lugu dan pintar harus lagi-lagi tengah tertunduk malu karena aku mengetahui kenakalanmu, aku menahannya untuk jatuh karena aku menghargaimu nak, aku tak ingin engkau tambah bersedih dan aku takut engkau akan merasa tertekan, dengan menunduk malu engkau berkata ‘iya’ dan berjanji padaku tidak akan mengulanginya lagi, aku sangat senang kali ini engkau engerti apa yang aku maksud, meski engkau belum berani mengatakan yang sebenarnya padaku nak, aku harap engkau akan selalu ingat semua pesan-pesan baik dariku untukmu, untuk kebahagiaan hidupmu, dan aku harap engkau akan selalu ingat janji kita, tadi pagi kita menyatukan dua kelingking kita yang menandakan kita mengikatkan diri saling berjanji, engkau tidak akan mengulanginya bukan, AKu sangat menyayangimu, dan aku tak ingin engkau terjerumus semakin dalam.

Akhir kata, Aku sungguh menyayangimu, jujurlah padaku apa yang sedang kau rasakan, aku akan mengerti tanpa harus kau pinta nak 

Subhanallah, Inilah Keutamaan Sedekah Air

Subhanallah, Inilah Keutamaan Sedekah Air

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Moch Hisyam

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Suatu saat ada seorang laki-laki berjalan dan di tengah-tengah perjalanan ia mengalami kehausan. Kemudian, ia mendapatkan sebuah sumur, lalu turun ke dalamnya dan minum darinya. Lantas ia keluar dan tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan, lalu orang itu berkata, ‘Anjing ini benar-benar telah kehausan seperti saya tadi juga kehausan.

Ia pun turun ke sumur lagi dan mengisi sepatunya dengan air sampai penuh. Kemudian, ia menggigit sepatunya sehingga ia naik ke atas dan memberi minum anjing itu. Allah pun memuji perbuatan orang itu dan mengampuni dosanya.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kalau kita menolong binatang juga mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Menolong setiap makhluk yang mempunyai limpa yang segar itu mendatangkan pahala.”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dikatakan, “Kemudian Allah memuji perbuatan orang itu dan memberi ampunan kepadanya serta memasukkannya ke dalam surga.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim lainnya disebutkan, “Suatu saat ada seekor anjing yang berputar-putar di sekitar sumur yang hampir mati karena kehausan. Kemudian, ada seorang pelacur dari Bani Israil yang melihat anjing itu, lalu ia melepas sepatunya dan mengambilkan air untuk anjing itu, dan ia pun meminumkannya kepada anjing itu. Maka, diampunilah dosa orang itu lantaran perbuatannya itu.” (Bukhari dan Muslim)

Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari kisah-kisah di atas. Salah satunya adalah keutamaan memberikan atau bersedekah air kepada yang membutuhkan, baik kepada golongan manusia maupun binatang. Itu karena mengalirkan air kepada yang membutuhkannya, baik terhadap manusia maupun makhluk lainnya, merupakan suatau kewajiban. Perilaku tersebut merupakan amal utama yang bisa mendekatkan seorang manusia kepada Allah SWT.

Selain itu, dalam hidupnya, manusia maupun makhluk lainnya sangat bergantung pada ketersediaan air. Air merupakan salah satu sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk lainnya. Tanpa adanya air, sulit bagi makhluk hidup, terutama manusia, untuk dapat bertahan hidup. Oleh karena itu, memberikan air sama dengan memberikan kehidupan bagi orang lain dan menjaga keberlangsungan hidupnya. Oleh karena itulah, memberikan atau bersedekah air merupakan amal utama.

Dalam suatu kesempatan, Saad bin Ubadah RA bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Memberi air.” (Shahih Abu Daud). Oleh karena itu, hendaknya kita berupaya untuk memberi atau bersedekah air kepada orang atau makhluk lain yang membutuhkannya. Sebab, ketika kita melakukan hal ini berarti kita telah melakukan amal utama yang akan mendatangkan pahala, pengampunan dosa, dan jalan meraih surga.

Memberi atau bersedekah air dapat diwujudkan dengan memberikan air minum secara langsung kepada orang yang kehausan ataupun kepada binatang lain yang sedang mengalami kehausan. Selain itu, bersedekah pun dapat diwujudkan dengan membangun sumber air atau mengalirkan air ke tempat-tempat yang sulit atau kekurangan air sehingga masyarakat atau lingkungan sekitarnya merasakan kemudahan mendapatkan air, baik untuk minum maupun untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Wallahu’alam.

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana

Pagi itu.. kembali aku melakukan rutinitas seperti biasanya, mempersiapkan diri dan hati untuk bekerja sepenuh hati, bedanya hari ini aku naik angkutan umum, tidak mengendarai motor, aku merasa hari itu merasa malas sekali harus bertempur dengan debu yang menjadi-jadi, dengan pengendara-pengendara mobil yang kejam, sering kali aku dibuntutinya dengan kecepatan tinggi, belum lagi mendengar klakson sang mobil raksasa yang bikin badanku goyah, hatiku gemetar dan rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya ‘Woy, berisik.. kaget dan lain-lain”.

Lain dari sebelumnya, biasanya jikalau aku naik angkutan umum aku selalu memilih naik 08, tapi hari itu aku ingin mencoba naik angkot 32 yang memang jurusannya itu cibinong-pagelaran, ya sangat cocok untuk jalur tempat kerjaku, aku menaikinya beserta siswi-siswi yang hendak menuju sekolahnya, saat itu aku asyik membaca buku sendiri, sebenarnya hal yang ku sukai saat menaiki angkutan umum ketika hendak bekerja itu karena bisa sambil membaca, minum dan lain-lain, mengisi waktu perjalananku yang sekitar 1 jam setengah dengan menimba ilmu sedikit demi sedikit.

Diseling-seling lembaran-lembaran itu ku lewati, sesekali banyak penumpang yang naik turun, kulihat ada seorang akhwat yang perlahan menaiki angkutan umum yang kunaiki, sama persis penampilannya denganku, memakai jilbab, membawa buku, bedanya jilbab yang ia pakai sangat-sangat lebar, kuperhatikan wajahnya sangat keibuan, alis matanya tebal, hidungnya mancung, manis, memikat siapapun yang melihatnya, terutama melihat jilbab lebarnya.

Alihkan kembali pandanganku ke buku yang sedang aku baca, seketika wanita berjilbab itu turun, tepat didepan universitas islam terbaik di bogor ini, sehentak aku ingin menangis dan kehilangan akal, alangkah bahagianya jadi wanita itu, cantik dan manis, sepertinya dia dari orang golongan berada, sedang aku , aku setiap harinya bekerja mencari gaji setiap bulannya, yang kemudian hasilnya ku sebarkan kesana kemari demi menghidupi adik-adikku yang sekolah, menghidupi kendaraan yang aku nekat membelinya dengan cara mencicil selama 3 tahun, menghidupi listrik yang akan padam jika tidak dibayar perbulannya, aku terlihat sama sepertinya, tetapi dia lebih beruntung, ia berhenti tepat disebuah universitas itu, tidak salah lagi ia pasti menimba ilmu disitu, karena sesaat sebelum turun ia mengenakan almetnya yang berwarna hijau tua dan tertera logo universitas disebelah kanannya, sedangkan aku hanya turun disebuah perusahaan yang sedang merangkak untuk berkembang, Allah.. aku sering kali merintih ingin merasakan bebasnya hidup didunia indah mu ini, aku ingin sekali menikmati gaji bulananku sendiri.. aku ingin sekali menikmati menimba ilmu lagi setelah semenjak 2 tahun ini aku lulus dari sekolah menengah atas dan bla..bla.bla..

Tapi kali ini aku harus lebih banyak bersyukur, karena dalam Al Qur’an pun tertulis ‘Jika bersyukur, maka akan AKU tambah”, belum lagi quotes penulis ARR ‘Yg gemar bersyukur, hidup pasti makmur, mujur, teratur. Sementara yg kufur, hidup pasti hancur, lebur, tersungkur.’, aku juga tersadar bahwasanya Hidup kita bahagia bukan hanya saat menggapai yg kita ingin, tapi mensyukuri apa yg sudah kita nikmati.

Dan satu lagi Hidup bukan dengan membanding-bandingkankan diri kita dengan orang lain, tetapi mebandingkan diri kita yang sekarang dengan yang sebelumnya.

Allah Maafkan, karena statusku hanyalah seorang hamba, aku mudah sekali terperosok jatuh ke lubang yang sama, dimana aku mudah sekali berkeluh kesah, lupa berucap syukur, dan aku ingin bebas dari apa yang selama ini menjadi bebanku.

Yaa Allah maafkan aku yang seringkali berfikir bodoh ingin melepaskan beban, Aku tersadar ketika beban dijalankan semuanya akan terasa ringan, tetapi jika dikeluhkan, ia justru semakin besar dan semakin terlihat menyiksakan, tidak mengasyikkan dan parahnya membuat kita seperti kehilangan iman.

Akhir kata, bahagia itu bukan dengan cara ingin seperti menjadi orang lain, tetapi bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri, bahagia itu sederhana, jika sampai saat ini status kita hanya seorang pekerja, itu tandanya kita mempunyai pekerjaan, bukan pengangguran, dan lain-lain 😉

Jomblo Sebelum Nikah

Jomblo Sebelum Nikah

Jomblo sebelum nikah? sebagian mengatakan ‘saya siap’ ini mungkin perkataan orang-orang yang memang memiliki komitmen untuk tetap menjomblo sebelum menikah, bagi sebagian orang pun mengatakan ‘aduh miris banget’ nah ini mungkin perkataan bagi orang-orang yang emang masa-masa abgnya dihabiskan buat pacaran, kalo gak pacaran hampa katanya, sepi pula, mau smsan sama siapa, kalo smsan sama cewek terus agak gimana gitu, nah ini nih yang paling utama, kalo gak punya pacar itu bingung kondangan sama siapa? ‘Jlebb’.

Menurut saya, memang sih jomblo agak miris, *hehe, katanya sang jomblo akan kebingungan jika undangan merutug datang, kebingungan karena gak punya pasangan untuk diajak kondangan, hadeh, bener juga sih emang, tapi salah kita sendiri, wong kenapa berteman hanya sama orang yang memiliki pacar, manusia dibumi ini kan banyak sekali, tentu gak semuanya punya pacar, pasti ada dan mungkin banyak yang tidak memiliki pacar. kalo saya lebih suka kondangan sama teman, baik itu teman laki-laki maupun perempuan, Alhamdulillah tidak merasa kebingungan, kebingungan itu hanya selintas perasaan yang harus dilintasi, kalau hanya didiamkan bisa-bisa malah gak kondangan.

Saya juga sering sih beberapa kali tidak menghadiri acara walimahan kawan, tetapi alasan saya memang bukan karena tidak ada pasangan, tetapi karena tidak ada teman :P, karena memang masih ada dalam perjalanan, atau memang karena tidak memiliki waktu banyak, belum lagi yang walimahannya jauh, saya hanya bisa memberikan do’a untuk yang sedang menikah, dan meminta maaf karena tak bisa hadir diacaranya.

kembali ke jomblo, saya pernah ditanya oleh seorang akhwat yang memiliki komitmen tinggi untuk tetap menjomblo sebelum nikah, begini pertanyaannya ‘ada tidak yang berani mengatakan tidak akan pacaran sebelum halal’, saya agak bingung menjawabnya, saya hanya tersenyum kecil dan menjawab ‘bingung jawabnya’.

Iya masih bingung, karena saya hanya hamba Allah yang biasa, saya masih berusaha istiqomah, agar tak lagi mempunyai ikatan tak halal, saya ingin sekali mantap untuk mengatakan IYA pada pertanyaan kawan diatas, saya ingn mantap berkata ‘saya tidak akan pacaran sebelum halal”, dan tentunya saya butuh referensi untuk hal ini.

dan kini, akan hadir buku terbaru Ahmad Rifai Rifan, sang penulis yang selalu mengompori untuk nikah muda :D, judulnya ‘jomblo sebelum nikah’, nah mungkin buku ini akan turut membantu saya untuk memantapkan hati, sayangnya buku ini akan rilis dibulan maret 2014 nanti. saya suka susunan kalimat yang ditulis ARR itu, warnanya menarik, hurufnya besar-besar, dan ringkas-ringkas pula, quotesnya juga bagus, mungkin buku ‘jomblo sebelum nikah’ adalah buku ARR yang kedua yang akan saya baca, sebelumnya saya membaca bukunya yang berjudul ‘Nikah Muda Siapa Takut’, bukunya memberi inspirasi tersendiri buat saya.

Akhir kata, apakah kalian tertarik ingin membacanya? kalau iya, harap sabar sampai maret tiba ya… oh iya sampul depannya warna ungu loh 😉 semakin menarik untuk dibaca, karena depannya saja sudah membuat saya jatuh cinta, apalagi isinya..

Semoga Bermanfaat, Ila Liqo 😉

Segala Sesuatu Tergantung Niatnya

Segala Sesuatu Tergantung Niatnya

Bismillahirrohmanirrohim..

Segala sesuatu itu tergantung niatnya yah ? benarkah ? wah ternyata benar pake banget *hehe, saya akan berbagi pengalaman pribadi saya tentang kebenaran hadits ini.

Pagi itu, hari jum’at tanggal 24 januari 2014, karena saya bergabung dalam grup ODOJ, maka otomatis setiap hari saya membaca satu juz, saat itu jatah saya membaca juz 15, entah apa yang membuat saya menjadi seperti ini, saya sedikit bergumam pagi itu, ‘sekarang hari jum’at yah ? bagusnya sih baca surah Al Kahfi, tapi males ah kepanjangan” sambil berlalu menatap layar monitor.

Dan karena kesibukan ditempat kerja, hari jum’at itu saya hanya sempat membaca 1 lembar, yang kemudian saya niatkan untuk melanjutkannya dirumah bada maghrib, singkat cerita jadilah saya sampai dirumah, melaksanakan sholat maghrib dan bersegera melanjutkan tilawah, dan entah gerangan apa, tiba-tiba saya malah main kerumah nenek (depan rumah), ini agak aneh, biasanya jika sudah maghrib saya akan malas kemana-mana, apalagi harus keluar rumah.

Saat itu niat saya ingin melanjutkan tilawah tetap ada, saya pun meminjam Alqur’an besar pada encing saya, dan kemudian membaca dengan syahdu surat cintaNya, agak aneh, di lembar ke-4 tiba-tiba saya tersadar, wah saya ini salah baca juz, seharusnya saya membaca juz 15, tetapi yang saya baca adalah juz 14, mulai kesal karena fikir saya, waktunya sudah mulai malam, tetapi saya belum kholas juga.

dengan sabar saya memulai kembali tilawah, dan saya sangat yakin juz yang saya baca adalah juz 15, dan kemudian dilembar ke-3 atau ke-4 saya lupa, kembali saya tersadar, ini bukan juz 15, yang saya baca justru malah juz 7, kesal saya agak memuncak, bukan karena marah atau apa, karena saya sangat lelah, waktu sudah menunjukan pukul 07.00, seharusnya saya sudah kholas dan segera lapor ke PJ harian, tetapi saya malah salah baca juz, dan itupun 2x, jika ditotal hitung dari lembaran yang saya baca, seharusnya saya sudah kholas, begitu fikir saya ‘seharusnya saya sudah kholas ni’.

memang di Alqr’an yang saya pinjam ini tidak tercantum dengan jelas juz-juz nya, salah saya tidak mentelaah dengan teliti, sehingga kesalahan pun terjadi, dan akhirnya karena saya kelelahan, saya mengurungkan niat untuk kholas ini, ya saya menunda membacanya dihari sabtu esok, jadi sabtu saya sekaligus membaca dua juz.

saya mencoba berfikir kenapa kejadian ini bisa terjadi, mengingat sudah sebulan ini tilawah saya lancar-lancar saja, dan kemudian betapa kagetnya saya, ketika saya memulai kembali tilawah juz 15 sabtu shubuh, ternyata di juz 15 terdapat surat Al Kahfi, 😦

Saya kembali teringat ucapan saya di jum’at pagi, yang intinya saya tidak ingin membaca surat Al Kahfi, MasyaAllah betapa bodohnya saya berniat seperti itu, Allah mengabulkannya, Allah membuktikan betapa sesuatu itu sesuai dengan niatnya. ya karena saya niat tidak akan membaca surah Al Kahfi jum’at itu, saya menjadi agak aneh, dengan membaca juz yang berbeda dan itu terjadi duakali, sehingga jum’at itu saya tidak tilawah juz 15, dimana ada surah Al Kahfi didalamnya.

Subhanallah, maha suci Allah.. saya kini tersadar memang segala sesuatu itu sesuai dengan niatnya, Jika buruk, maka buruk pula yang didapat, dan jika baik, maka baik pula yang didapat.

Akhir kata, semoga bermanfaat

Dimanakah Hatinya?

Pilu rasanya, melihat berita-berita pelecehan seksual, baik dari tv, radio, internet, media koran, belum lagi di jejaring sosial seperti twitter, facebook, sampai sesekali sesegukan bercucuran air mata, mengapa, karena saya juga seorang perempuan layaknya mereka, saya juga memiliki satu orang adik perempuan, seperti apa rasanya jika kita, atau bahkan keluarga kita mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari laki-laki bejat dan tak bermoral.

Dimana hatinya ? bukankah Allah memberikannya sekeping hati untuk bertindak menggunakan hati, bukankah Allah telah memberikannya akal untuk berfikir dengan maksimal, bukankah Allah menitipkanmu pada seorang ibu yang jua seorang perempuan, Bukankah Allah kelak mentaqdirkannya menua bersama seorang perempuan, Bukankah Allah kelak memberikannya anak-anak perempuan dari hasil pernikahannya dengan perempuan, Bukankah Allah menciptakannya untuk memuliakan ibunya yang juga seorang perempuan, Bukankah Allah sangat jelas dalam surat cintanya menjelaskan bahwasanya seorang ibu, seorang perempuan melahirkannya dengan keadaan yang sepayah-payahnya ?.

Saya sungguh sangat heran dengan cara fikir para pelaku pelecehan seksual itu, saya geram, dan saya muak jika lagi-lagi harus mendengar kasus pelecehan seksual, tidak tanggung-tanggung, balita berumur 3 tahun pun harus sudah merasakan perbuatan tidak senonoh dari lelaki bejat tak bermoral, sungguh miris didunia ini.

Apa mereka tidak memiliki sekeping hati ? kalau iya, mengapa mereka bisa hidup? rasanya saya ingin berantas semua pelaku-pelaku bak keparat itu, tapi apalah daya saya hanya manusia biasa.

Buat para orang tua, mungkin ada beberapa cara yang bisa mencegah terjadinya pelecehan seksual pada buah hati tercinta, misalnya :

1. Protect tempat bermain anak
2. Beri pengertian agar anak pintar mendeteksi terjadinya kejahatan
3. jangan tinggalkan anak dirumah sendirian, apalagi bersifat continue
4. bersikap baik pada tetangga, karena sering kali keributan antar tetangga memicu terjadinya kejahatan seksual pada anak.
5. meminta perlindungan Allah SWT agar selalu dijaga dengan penjagaan yang sebaik-baiknya.

mungkin itu saja yang dapat saya share, ini hanya sekedar pemikiran saya, silahkan cari referensi lain yah.

Akhir kata, semoga bermanfaat 🙂