Kepada kamu, 7 tahun yang lalu

Assalamualaikum.
Hai. Apa kabar semua? Udah 2018 nih. Mau posting thread pertama di januari ini. Kali ini saya ingin kilas balik ke 7 tahun lalu.

2010-2011
Ditahun ini Aku berhasil menaklukan hati kamu. Laki laki kurus tinggi, ya setelah di 2010 melewati banyak hal, sampai cinta segitiga. Dan finally, kamu memilihku untuk menjadi kekasihmu.
Rasanya? Bahagia. Karena semenjak hari itu, kamu selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku. Menghormatiku layaknya puteri. Main kerumahku dan kita berbincang dimalam tahun baru. Kamu ingat? Ah tak usahlah. Ini hanya sepenggal kisah 7 tahun lalu.

Aku yg selalu menemanimu meski saat itu kamu belum memiliki motor, kamu berjanji menikahiku beberapa tahun kedepan. Lebay sih. Krn saat itu usia kita belum mencapai angka 20. Dan entah rasanya bahagia memilikimu. Meski saat itu kamu belum memiliki apa-apa.

Dan kamu, yang selalu menuruti keinginanku, berjalan kesana kemari, membelikanku eskrim kesukaanku, rasa cokelat dan ditaburi kacang, kamu selalu membawakannya 2 buah, karena kamu tahu percis aku sangat menyukainya.
Banyak yang ingin ku tuangkan. Tapi sayang. Aku enggan banjir air mata. Kita lanjut di 2012.

2012
Aku denganmu masih baik-baik saja. Saat itu kamu sudah bekerja di kantor partai nasdem. Dan Aku disalah satu pabrik depok. Kamu masih sering menjemputku pulang kerja. Bahkan tengah malam. Kamu bersedia menjemput dan mengantarku kerja. Aku ingat sekali. Kamu berjalan dari arah selatan menuju rumahku. Mengenakan jaket abu abu dan terkadang jaket merah. Dan sampai sekarang aku masih melihatmu mengenakan jaket itu. Aku cukup senang melihatnya. Meski sekarang. Kamu tak lagi berjalan ke arah rumahku. Melainkan rumah dia.
Pertengahan 2012, kamu mulai berubah. Aku pernah mengecek handphonemu. Saat itu aku masih seperti anak kecil, merajuk meminta handphonemu hanya untuk mengecek kotak masuk, pesan di facebook. Dan aku melihat satu nama. Dia yg sekarang bersamamu salah satunya. Aku marah dan memintamu untuk tidak membalas pesannya lagi. Tapi kamu laki laki baik. Kamu tetap membalasnya dengan dalih silaturahim.

Itu pilihanmu. Aku membiarkannya dengan berharap hubungan kita baik baik saja. Tapi kamu sangat berbeda. Dahulu. Saat aku ucap kata putus. Kamu akan menangis datang kerumahku. Aku masih ingat. Sore itu di tahun 2012. Kamu datang dan berdiri disamping rumahku. Dibawah rintik hujan. Dan menangis meminta aku untuk tetap menemani kamu lagi. Speechles aku luluh dan berhasil mempecayai kata-katamu lagi.

Sebulan setelahnya kamu memilih mengakhiri hubungan ini. Dan bagiku ini rasanya sakit sekali. Terlebih di akhir 2012 kamu mempunyai kekasih baru. Dan dia adalah orang yang ku kenal. Orang yang namanya ada di kotak masuk pesanmu saat dulu aku mengecek handphonemu.

Bagaimana rasanya? Sakit. Melihatmu dari kejauhan aku tersenyum simpul, meski palsu aku tak memperdulikannya, hanya ada benci saat itu.

Sejak saat itu aku menutup akses denganmu. Tak lagi membalas pesanmu. Meski beribu kali kamu meminta maaf aku tidak menghiraukannya. Kamu memang laki laki baik. Kamu tetap ingin berhubungan baik denganku.

2013-2015
Kamu masih sering mengirimiku pesan di facebook. Menanyakan kabar, mendoakanku, mengucapkan selamat ulang tahun (dan ku akui. Ucapan selamat darimu tak semanis ucapan yang lain), dan kamu selalu bilang kalau ibumu merindukanku. Aku terhenyuh. Krn semenjak kita berakhir. Aku tak pernah lagi ke dapur membantu ibumu memasak. Aku tak lagi menemani ibumu berangkat kajian. Dahulu shubuh hari. Aku dan ibumu pernah beberapa kali menghadiri kajian di bogor. Saat itu aku ingin sekali membalas pesanmu. Aku juga rindu ibumu. Bahkan sangat rindu, namun aku lebih memilih mendiamkan pesanmu. Aku terlalu takut memulainya lagi. Dan aku terlalu sakit atas berakhirnya kita.
Aku suka rindu, tapi tidak untukmu, aku hanya rindu kenangannya. Dan aku sadar, sekarang aku menafikkan diriku sendiri”

2016-2017
Kamu masih beberapa kali mengirimkan pesan. Seperti biasa aku masih enggan membalas. Dan di 2017 nampaknya kamu mulai menapaki hubungan yang lebih serius dengan dia. Di 2017 sekalipun kamu tak lagi menanyakan kabarku.

2017 hujan rindu. Aku rindu kau datang kerumahku. Membawakan eskrim kesukaanku. Aku memang rindu. Tetapi Tuhan berbaik hati. Di 2017 ini, Dia mengirimkan laki laki baik yang sekarang menemaniku (laki-laki itu pun teman kamu sendiri, kamu mengenalnya. Posisi kita imbang, sekarang kamu membersamai temanku, dan aku membersamai temanmu). Sama dengan kamu. Kebiasannya bertemu denganku selalu membawa eskrim kesukaanku.

Di 2017 rasa sakit itu masih ada. Tapi tinggal sedikit, hingga aku baru berani meluapkan semuanya, meski hanya sebatas sajak tanpa suara. Seperti orang yang baru kembali ingatannya. Aku memutar ulang semua kronologis pertemuan kita dan berakhirnya kita. Entah rasamu masih begitu lekat. Tetapi di pertengahan 2017. Aku mencoba membuka hati. Setelah 6 tahun menutup akses dari laki-laki. Sempat ku sesali. Laki-laki yang dulu mencoba mendekatiku kini sudah berstatus suami. Sayang dulu aku terlalu menutup diri karena rasa sakit yang tak kunjung hilang.

Tuhan sangat baik. Di 2017 ini, saat hatiku sudah siap bercinta lagi. Dia mempertemukanku dengan laki-laki yang baik. Dan kuharap dia adalah jodohku. Aku berjanji untuk tidak mengingatmu lagi. Tapi sial, namamu masih menjadi trending topic di fikiranku, meski tak lagi sama, karena fikirku telah terbagi dengan laki-laki yang baru saja menemaniku. Laki-laki lugu itu, aku berharap keluguannya mampu mengambil seluruh hatiku, dan sedikit-demi sedikit menghapus namamu.

Aku juga bersalah atas semua kekakuan yang tercipta di tengah hangatnya pertemanan kita, pun kekeluan yang terjadi di antara kita. Semua seakan bisu, tuli, dan buta atas apa yang pernah terjadi pada kita. Aku maklum, karena bagaimanapun, kita adalah ketidak-mungkinan yang sampai kapanpun tidak akan mungkin menjadi suatu kemungkinan. Sudah sepantasnya aku bersikap seolah kita tidak ada, tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada.

Kepada kamu,
Sekali lagi maafkan aku, Jika kamu mau, anggap saja tulisan ini tidak pernah ada, pun hubungan kita. Jika saja aku bisa, aku akan berharap semua kekacauan ini tidak pernah terjadi dan kita masih tetap dekat seperti dulu. Sayangnya aku tidak bisa. Bagiku, berjauhan denganmu seperti ini terasa lebih baik, aku tidak mau meminta lebih lagi dari ini.

Dan Terimakasih, meski di 2013, 2014, 2015 , 2016 aku membencimu, memakimu dengan kata-kata kasar, kamu tetap sabar dan tetap bersikap baik. Titip salamku untuk ibumu dan titip salam untuk kekasihmu, semoga kalian cepat halal, supaya tidak ada baper di antara kita. 🙂

Dari Aku,
Yang pernah dekat dengan ibumu.

Iklan