Dan Tentang Dakwah

Dan Tentang Dakwah

Kemarin 23 Februari 2014 baru saja aku merasakan getaran hebat luar biasa, aku merasakan ini hari hebat, dimana aku menemukan sesuatu hal baru yang ku temui, dan begitu bermanfaat, ya tentang dakwah, kaka itu cepat sekali membantuku dalam mengartikan makna dakwah, dakwah bukan hanya soal ceramah, dakwah bukan hanya soal tabligh akbar, dakwah bukan hanya soal duduk dimasjid bersama-bersama dengan seorang mubaligh / ustadz dan bla..bla..bla..

‘Ka, dakwah itu setauku ceramah’ dalam hati kecilku bertanya setelah mengunduh video yang dikirimkannya, aku melihatnya, dan masih linglung , apa makna dari video ini? Disini tertulis banyak sekali tentang dakwah, salah satu yang kuingat yaitu “Dakwah menempaku menjadi sosok yang lebih berarti untuk hidup yang hanya sekali, Dakwah mengajarkanku tentang cinta sejati, Dakwah mengajarkanku untuk mengenggam dunia ditanganku, bukan dihatiku” dan banyak sekali, hanya saja aku belum bisa menafsirkan secara benar makna dakwah ini. Ya karna itu, karena kukira selama ini dakwah adalah ceramah.

Dakwah adalah cinta, begitu katanya, selintas fikiranku terbesit pada cinta manusia *Astaghfirulloh, istighfar ku ucap dalam-dalam, pesannya persepsiku harus diluruskan, definisi cinta disini bukan cinta yang semu, cinta terhadap manusia, *Walah semakin bingung ku dibuatnya.. sedikit mulai faham, Dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu, sampai pikiranmu, sampai perhatianmu, berjalan, duduk dan tidurmu, bahkan ditengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah, tentang ummat yang kau cintai, lagi-lagi memang seperti itu, Dakwah menyedot saripati energimu, sampai tulang belulangmu, sampai daging terakhir yang menempel ditumbuh ditubuh rentamu, tubuh yang luluh lantak diseret-seret.. tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari ..ketika kita menyeru untuk kebaikan, meluruskan niat untuk menebarkan kebaikan pada setiap umat,..cinta itu sebuah cinta yang lembut, bagai setangkai bunga anggrek yang harum dan menyegarkan.

Hari ini, aku akan terus bertanya tentang dakwah ini, sepertinya memang sudah saatnya aku berbagi kebaikan tidak hanya dengan orang dekat, wong yang mengenalkan aku tentang dakwah ini adalah seorang akhwat yang sebelumnya tidak ku kenal, sama sekali belum bertatap muka, tetapi ia sangat peduli padaku yang masih butuh bimbingan ini, ketika aku bertanya dengan tersedu-sedu “kenapa kaka begitu peduli padaku” ia menjawab dengan manisnya “karena kamu saudariku.. :*”, dan dakwah mengajariku untuk terus belajar kebaikan pada siapapun.

Nah, kaka ini pula yang mengajarkanku tentang indahnya ukhuwah, menurutku dia adalah orang yang pintar memulai ukhuwah, *kenapa ? karena dialah yang memulai ukhuwah denganku, dengan mengadd facebookku, dan dia juga pintar membuat ukhuwah ini merekah, *kenapa ?, karena dialah yang begitu peduli mengenalkanku pada kebaikan, cinta, hati, sampai kepada dakwah ini, dia yang sangat sabar mengetik satu demi satu huruf hingga menjadi kata, dan bersatu padu menjadi kalimat yang indah, yang kemudia ia tebarkan padaku, sungguh aku merasa ukhuwah ini indah, ka.. barakallah.. 

Mengapa aku sejelek ini ??

Mengapa aku sejelek ini ??

“Hei lihat gadis itu menangis”, teriaknya pada salah satu kawanku sesambil menunjuk ke arahku, sedang aku masih dalam keadaan terisak dan sesegukan, kata-katanya tepat menusuk ulu hatiku, apa iya aku sejelek ini ?

Tetiba salah satu sahabatku datang meminjamkan pundaknya, “mengapa cantik? lagi-lagi engkau menangis, sudah 19 tahun ini engkau masih saja bersikap seperti anak kecil, yang ketika ada satu perkataan saja yang membuat hatimu terkucil, air matamu tetiba menetes kemudian mengalir deras…

“Sudahlah, abaikan saja perkataan itu, jika sekarang kata-kata itu mengendap dihatimu, tersimpan diotakmu, coba sekarang engkau simpan ia dibawah telapak kakimu, kau endap dibawahnya, jangan berlama-lama menyimpannya dalam hati, ia akan berkarat”, celotehnya padaku terus saja tiada henti, mungkin dia begitu bosan melihatku yang sering kali sesegukan hanya karena hal kecil.

“ah tunggu dulu sebenarnya siapa yang membuatmu seperti ini??, memangnya dia bicara apa?, jelaskanlah padaku, aku akan mengerti tanpa harus kau pinta” tanyanya padaku, dengan bersandar dibahunya aku pun bercerita, aku sering kali iri terhadap siapapun, apa aku ditakdirkan sejelek ini mae? Sehingga tak ada seorangpun yang berkata aku ini cantik?, “Aku? Sesambil menunjuk dirinya” maepun menyanggah,.

Aku rasa hanya kamu yang sering memanggilku dengan sebutan cantik, tapi mereka, sering kali aku jadi bahan cemoohannya, terkadang ketika jam pelajaran aku sering kali berlari kekamar mandi hanya ingin menangis, teman-temanku dikelas sering kali mengejekku dengan kata ‘jelek’, dan jika memang kuperhatikan, orang-orang disana hidungnya mancung keluar, sedang aku mancung kedalam, bibir mereka tipis menggoda, sedang aku sangat tebal bak gorilla, gigi mereka putih bersih dan rata, sedang aku besar-besar dan maju, aku malu, aku pun semakin terisak dan sesegukan.

Belum lagi kulit mereka putih merona, sedang aku coklat kehitaman, buluk, aku ini tak ada bagusnya bukan? Rambut mereka juga lurus dan bagus, sedang aku ikal mengembang seperti tak terawat, alis mereka tebal menyatu, sedang aku tipis berwarna abu-abu bak nenek-nenek, aku benci, mengapa aku dilahirkan seperti ini?

Pantas saja tidak ada satupun lelaki yang mau mendekat padaku, bahkan mengajakku menjadi pacarnya, ah itu hanya mimpi bukan? Aku harus bagaimana mae? Berkali-kali aku mencoba beryukur, tetapi sering kali juga aku tersungkur, mangkir dan kufur, aku iri, dengki, dan bla..bla..blaa…

Mae menatapku dalam-dalam, “lihat mataku, engkau sungguh cantik, prilakumu baik, engkau tidak pernah sekalipun menyakitiku seperti mereka, bagiku engkau tetap cantik, engkau teman yang sering kali sabar dalam menghadapi sifat pelupaku, sifat leletku yang membuat teman lain enggan untuk bermain denganku, engkau wanita baik, hei Ana, tatap mataku, sejelek apapun manusia, pasti mempunyai kelebihan”

Aku menepis pundaknya dan berkata, “tetapi tidak untukku” , jika Allah maha adil, mengapa dia tidak memberikan aku wajah secantik mereka?? Tetiba mae ikut menangis, “Ana, aku sedih melihat kau seperti ini, bukankah kemarin engkau bisa terus kuat, mengapa sekarang engkau terlalu rapuh ?”, aku menghela nafas dan memberontak, aku lelah.. lelah dengan semua ini mae, berkali-kali aku tetap berdiri tegak padahal hati ini bergitu terhimpit, sesak dan begitu sakit, kali ini aku ingin sekali teriak sekencang-kencangnya, melumerkan keluh dan asa yang dahulu sering aku pendam dan aku tahan agar tak lumer dan tercecer, tapi kali ini tidak, aku lelah, kau mengerti kan mae? Bukankah tadi kau yang bilang engkau akan mengerti tanpa harus ku pinta?..

Mae terus sesegukan melihatku seperti ini, suasanapun tetiba hening, dengan suara ciri khasnya yang serak mae kembali berbicara.. “Apa aku cantik” tanyanya padaku, “engkau sungguh cantik, alismu tebal, hidungmu mancung, dan kulitmu putih, matamu juga sipit dan engkau memiliki pacar” sahutku dengan nada iri.

Dengan matanya yang berkaca-kaca mae memegang pundakku dengan kedua tangannya “Ana, lihatlah wajahku, aku putih ? aku mancung ? dan aku memiliki pacar ? apa ini yang disebut cantik ??” jawabku “itu sempurna” “sempurna? Apa engkau tahu, selama 3 tahun kita berteman, aku selalu menyembunyikan satu hal padamu ana?” nadanya melemas, aku terbelalak, “apa?”

Mae bercerita “Penyakit kronis itu mulai menggerogoti tubuhku sejak dua tahun lalu, aku divonis oleh dokter, aku dihinggapi penyakit mengerikan itu, yang tidak sedikitpun terbesit dalam benakku, kanker itu, membuat hidupku tak lagi seindah dulu, tak lagi berwarna seperti dulu, tak lagi bercahaya kala itu, kanker ini sedikit demi sedikit menggerogoti otakku, ya aku terserang penyakit kanker otak stadium 1, itu hal yang paling mengerikan yang terjadi dalam kehidupanku..

Aku tak bisa lagi makan dengan enak, pantang ini, pantang itu, aku tak pernah bisa tidur nyenyak, nyeri dikepalaku terus saja berpacu, detak jantungku lebih keras berdebar, aku tak bisa merasakan indahnya dunia, aku juga sempat putus asa, aku mau mati saja, rasanya itu lebih baik, dari pada aku harus hidup menderita.

2 tahun ini aku harus hidup merana, tetapi semenjak masuk SMA, aku mengenal dirimu, dirimu kuat menopang hidup, melihatmu membuat aku menjadi semangat dalam menjalani ini semua, engkau begitu kuat, engkau pintar, aku iri melihat ketegaranmu, terlebih ketika ayahmu tenggelam saat kapal dipelabuhan merak itu kecelakaan, engkau sungguh kuat, engkau sama sekali tak menyalahkan Tuhan, mengenalmu, aku menemukan secercah cahaya hidup untuk terus berlanjut..

Aku iri kepadamu, engkau pernah meraih piala bergengsi diajang cerdas cermat antar sekolah itu, engkau juga pandai merangkai kata dan puisi, engkau mengajarkan aku banyak tentang agama dan pelajaran lain, terlebih engkau sering kali mengajariku mengaji, mengajariku untuk menyebut huruf hijaiyah itu dengan fasih dan masih banyak lagi.

Aku iri, aku hanyalah wanita cantik yang berpenyakit, jika dikasih pilihan, aku lebih baik jadi wanita biasa saja tetapi kuat dan banyak kelebihan seperti dirimu, aku cewe penyakitan, penyakitan ana.. kau harus tau itu, setidaknya ini lebih buruk dari yang kau alami bukan? Tangisnya meledak, alisku berdenyit tanda tak enak.

Aku dan mae saling berpandangan, “maafkan aku mae, aku telah membuat tangisanmu meledak, aku kini tersadar betapa Allah maha adil, Ia selalu menitipkan kelebihan disetiap kekurangan begitupun sebaliknya, mae terimakasih karena kau begitu sabar menghadapiku yang sering kali kau menemukanku dalam keadaan menangis, kita sama-sama kuat yah? Sambil ku peluk mae yang masih saja sesegukan.

“Ana aku juga minta maaf kepadamu karena selama ini menyembunyikan tentang riwayat penyakitku selama ini”, pungkasnya, pesanku padamu jangan selalu ingin dipuji cantik, karena kecantikan wajah hanyalah sementara, kita akan menua, cantiklah dari hati, cahaya kekuatan dari hati itu akan terpancar melebihi cahaya kecantikan wajah, Semakin ingin dipuji, dihargai, dikagumi semakin resah hati dan semakin mudah sakit hati. pujian, cacian, kucing mengeong, ember Jatuh, sama saja hanya sekedar getaran suara. Yang membuat kita sakit hati ketika dihina, bukan karena penghinaannya melainkan karena kerinduan kita untuk Dipuji/ Dihargai. Ujian pujian jauh lebih sulit dari pada ujian cacian. cacian yang membuat sadar diri jauh lebih baik dari pada pujian yang membuat lupa diri” nasihat mae pun cepat merasuk kedalam hatiku , kini aku kembali semangat, tak perlu risau jika dinilai orang lain, sejatinya Allah lah sebaik-baik penilai, maka yang bahagia, yang hanya sibuk terhadap penilaian Allah saja, tekadku dalam hati untuk seterusnya bersyukur atas apa yang telah Allah beri, atas apa yang telah aku miliki, dan atas semua yang telah ditakdirkan oleh Allah menjadi bagian dari hidupku.

Aku menangis haru, kejadian ini mengingatkanku kembali akan keadilan Tuhan yang begitu sempurna, ketika aku merasa memiliki banyak kekurangan, Ia selalu saja mengingatkanku begitu banyak kelebihan pada diriku melalui mae, yah kini aku sadar, Allah tetapkan hatiku untuk selalu berfikir positif dalam menghadapi apapun, dan jadikan aku wanita yang selalu saja memiliki alasan untuk berbaik sangka, mungkin mereka mentertawaiku, mencemoohku karena mereka rindu tertawa bersamaku.

“Nah gitu kan cantik, ayok senyum, ledek mae terhadapku, “hmm nih aku senyum yah , sahutku dengan penuh kegembiraan, aku memeluknya dan berkata “Barakallahu mae, semoga Allah angkat penyakitmu dan menaikkan derajatmu, engkau pasti kuat, kita sama-sama tegar yah, apapun yang terjadi kita tetap bersahabat”, mae menjawab “Barakallahu juga sahabatku, aku mencintaimu karena Allah”…

Selesai…