Aku Menyayangimu nak…

Aku Menyayangimu nak...

Adik kecilku yang manis, yang wajahnya berlseung pipi jika mengembangkan bibirnya, membentuk pelangi terbalik, yang mancung hidungnya, yang ikal rambutnya, yang tebal dan hamper menyatu alis matanya, yang hitam kelopak matanya, dan yang matanya berkata benar saat mulutmu berkata bohong.

Adik Kecilku yang ku sayang, engkau sangat pintar mengaji, bahkan kau terlihat lebih unggul disbanding teman-temanmu yang lain, aku sangat bangga padamu, diumurmu yang masih kecil, engkau sudah menapaki sedikit demi sedikit bacaan AL Qur’an dengan baik, yang banyak orang dewasa pun tak mampu membacanya, aku yakin engkau akan tumbuh baik nak, selama engkau masih berpegang teguh akan melakukan kebaikan.

Adik kecilku yang manis, umurmu kira-kira masih 10 tahun ya sayang, tapi mengapa kau tega membohongiku nak.. kau begitu tega membuat beban ini tiada hentinya, seering kali aku harus memutar otak agar terus bisa membahagiakanmu, membelikanmu buku-buku LKS, membelikanmu selimut yang kau idamkan, dan membelikan semua kebutuhanmu sampai pada kaos kaki yang sampai saat ini memang belum kubelikan.

Adik kecilku yang lugu, engkau sangat lugu dan begitu manja, entah apa yang ada dalam fikiranmu sampai engkau berani melakukan itu, dan sungguh sangat terngiang ditelinga ini kala banyak yang mengadu tentang kenakalan dirimu, aku begitu terpukul ketika mendengar banyak tentang kenakalan dirimu, dan aku tidak marah, sesekali aku hanya mengelus dada dan mengomelimu dengan nada yang agak tinggi, itu bukan marah, tapi itu caraku agar engkau lebih mengerti, aku tau itu salah, tapi aku telah kehabisan akal, berbicara dengan baik pun kau mengelak tak mendengarnya.

Adik kecilku yang pintar, aku sangat bangga padamu prestasimu dikelas patut diacungkan jempol, engkau sangat pintar menghafal dan menggambar, engkau juga pintar matematika, serta pintar bercerita, apalagi ketika engkau berhasil mendapatkan juara di semester akhir ini, aku begitu bangga padamu, dan kemudian aku membelikanmu hadiah selimut yang engkau idamkan sejak dulu bukan, itulah bukti sayangku kepadamu.

Tapi, akhir-akhir ini engkau membuatku kecewa nak, engkau melakukan sesuatu yang tak pernah terbesit sekalipun dalam otakku, engkau melakukan sesuatu yang salah, aku sedih dibuatnya dan sampai sekarang pun aku masih memutar otak untuk mengatasi keanehan ini, keanehan pada dirimu, apa engkau merasa tertekan nak? Apa engkau merasa kurang disayangi, atau engkau ingin mendapatkan banyak hal yang kau idamkan sehingga engkau melakukan hal itu.

Dan, ketika tadi pagi aku mencoba untuk menasihatimu dengan sayang, aku ingin sekali menitikkan air mata melihatmu yang lugu dan pintar harus lagi-lagi tengah tertunduk malu karena aku mengetahui kenakalanmu, aku menahannya untuk jatuh karena aku menghargaimu nak, aku tak ingin engkau tambah bersedih dan aku takut engkau akan merasa tertekan, dengan menunduk malu engkau berkata ‘iya’ dan berjanji padaku tidak akan mengulanginya lagi, aku sangat senang kali ini engkau engerti apa yang aku maksud, meski engkau belum berani mengatakan yang sebenarnya padaku nak, aku harap engkau akan selalu ingat semua pesan-pesan baik dariku untukmu, untuk kebahagiaan hidupmu, dan aku harap engkau akan selalu ingat janji kita, tadi pagi kita menyatukan dua kelingking kita yang menandakan kita mengikatkan diri saling berjanji, engkau tidak akan mengulanginya bukan, AKu sangat menyayangimu, dan aku tak ingin engkau terjerumus semakin dalam.

Akhir kata, Aku sungguh menyayangimu, jujurlah padaku apa yang sedang kau rasakan, aku akan mengerti tanpa harus kau pinta nak 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s