Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana

Pagi itu.. kembali aku melakukan rutinitas seperti biasanya, mempersiapkan diri dan hati untuk bekerja sepenuh hati, bedanya hari ini aku naik angkutan umum, tidak mengendarai motor, aku merasa hari itu merasa malas sekali harus bertempur dengan debu yang menjadi-jadi, dengan pengendara-pengendara mobil yang kejam, sering kali aku dibuntutinya dengan kecepatan tinggi, belum lagi mendengar klakson sang mobil raksasa yang bikin badanku goyah, hatiku gemetar dan rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya ‘Woy, berisik.. kaget dan lain-lain”.

Lain dari sebelumnya, biasanya jikalau aku naik angkutan umum aku selalu memilih naik 08, tapi hari itu aku ingin mencoba naik angkot 32 yang memang jurusannya itu cibinong-pagelaran, ya sangat cocok untuk jalur tempat kerjaku, aku menaikinya beserta siswi-siswi yang hendak menuju sekolahnya, saat itu aku asyik membaca buku sendiri, sebenarnya hal yang ku sukai saat menaiki angkutan umum ketika hendak bekerja itu karena bisa sambil membaca, minum dan lain-lain, mengisi waktu perjalananku yang sekitar 1 jam setengah dengan menimba ilmu sedikit demi sedikit.

Diseling-seling lembaran-lembaran itu ku lewati, sesekali banyak penumpang yang naik turun, kulihat ada seorang akhwat yang perlahan menaiki angkutan umum yang kunaiki, sama persis penampilannya denganku, memakai jilbab, membawa buku, bedanya jilbab yang ia pakai sangat-sangat lebar, kuperhatikan wajahnya sangat keibuan, alis matanya tebal, hidungnya mancung, manis, memikat siapapun yang melihatnya, terutama melihat jilbab lebarnya.

Alihkan kembali pandanganku ke buku yang sedang aku baca, seketika wanita berjilbab itu turun, tepat didepan universitas islam terbaik di bogor ini, sehentak aku ingin menangis dan kehilangan akal, alangkah bahagianya jadi wanita itu, cantik dan manis, sepertinya dia dari orang golongan berada, sedang aku , aku setiap harinya bekerja mencari gaji setiap bulannya, yang kemudian hasilnya ku sebarkan kesana kemari demi menghidupi adik-adikku yang sekolah, menghidupi kendaraan yang aku nekat membelinya dengan cara mencicil selama 3 tahun, menghidupi listrik yang akan padam jika tidak dibayar perbulannya, aku terlihat sama sepertinya, tetapi dia lebih beruntung, ia berhenti tepat disebuah universitas itu, tidak salah lagi ia pasti menimba ilmu disitu, karena sesaat sebelum turun ia mengenakan almetnya yang berwarna hijau tua dan tertera logo universitas disebelah kanannya, sedangkan aku hanya turun disebuah perusahaan yang sedang merangkak untuk berkembang, Allah.. aku sering kali merintih ingin merasakan bebasnya hidup didunia indah mu ini, aku ingin sekali menikmati gaji bulananku sendiri.. aku ingin sekali menikmati menimba ilmu lagi setelah semenjak 2 tahun ini aku lulus dari sekolah menengah atas dan bla..bla.bla..

Tapi kali ini aku harus lebih banyak bersyukur, karena dalam Al Qur’an pun tertulis ‘Jika bersyukur, maka akan AKU tambah”, belum lagi quotes penulis ARR ‘Yg gemar bersyukur, hidup pasti makmur, mujur, teratur. Sementara yg kufur, hidup pasti hancur, lebur, tersungkur.’, aku juga tersadar bahwasanya Hidup kita bahagia bukan hanya saat menggapai yg kita ingin, tapi mensyukuri apa yg sudah kita nikmati.

Dan satu lagi Hidup bukan dengan membanding-bandingkankan diri kita dengan orang lain, tetapi mebandingkan diri kita yang sekarang dengan yang sebelumnya.

Allah Maafkan, karena statusku hanyalah seorang hamba, aku mudah sekali terperosok jatuh ke lubang yang sama, dimana aku mudah sekali berkeluh kesah, lupa berucap syukur, dan aku ingin bebas dari apa yang selama ini menjadi bebanku.

Yaa Allah maafkan aku yang seringkali berfikir bodoh ingin melepaskan beban, Aku tersadar ketika beban dijalankan semuanya akan terasa ringan, tetapi jika dikeluhkan, ia justru semakin besar dan semakin terlihat menyiksakan, tidak mengasyikkan dan parahnya membuat kita seperti kehilangan iman.

Akhir kata, bahagia itu bukan dengan cara ingin seperti menjadi orang lain, tetapi bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri, bahagia itu sederhana, jika sampai saat ini status kita hanya seorang pekerja, itu tandanya kita mempunyai pekerjaan, bukan pengangguran, dan lain-lain 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s